Saturday, March 5, 2016

Cerita Seks Semakin Menggila dibuatnya

Cerita Dewasa - Pengalaman seksku yang luar biasa bagi diriku karena kisah ini tidak disengaja dan terjadi di dalam pesawat yang sedang terbang. Namanya saja pramugari tentu saja kerjanya di udara mulu dan seks yang dilakukan pun juga di udara, hahah. Namun benar, pengalaman seks yang satu ini memang luar biasa, sensasi yang kudapatkan pun juga sangat luar biasa, begini cerita selengkapnya, waktu itu aku sedang dalam sebuah perjalanan menuju US atau amerika untuk keperluan bisnis.

http://www.winbet303.com/index.php



Mungkin ini keberuntungan ku kali ya, karena aku dilahirkan menjadi anak orang kaya dan mengurusi bisnis yang diluar negri sehingga aku sering pergi ke luar negri untuk tujuan bisni, saat itu aku duduk di sebuah kursi bisnis, tak lama setelah aku merasa bosan terbang, karena waktunya sangat lama kudengar suar merdu di telingaku..

” Excuse me, sir… ” sebuah suara halus menyapaku dengan ramah. Ternyata seorang pramugari muda berwajah manis sedang tersenyum padaku.

” Are you from upper deck? ” Aku mengangguk, ” Yeah… why? ” aku mengintip name tag di dadanya.

Yufairana Sastri… wah nama indonesia nih ! ” I am just checking to see whether you need anything, because you have been looking out for quiet a long time… ” jawabnya dengan sopan.

” Dari Indonesia ya kamu? ” todongku.

” Lho… iya ! Bapak dari Indo juga? ” tanya lagi.

” Uh kok Bapak sih… belum juga tua, kok dipanggil Bapak… panggil nama aja… aku Joe… ”

” Oh… saya Faira… Bapak eh… kamu mau ke LA ya? ” kemudian kami ngobrol ngalor ngidul selama tigapuluh menit.

Ia sudah tinggal di luar negeri selama lebih dari empat tahun. Aslinya dari Bandung. Umurnya baru 23. Belum punya pacar katanya.

Kami ngobrol sambil berdiri, lalu tiba-tiba seorang pramugari lain menghampirinya dan sementara mereka mengobrol, aku mengambil segelas wine yang disiapkan di galley (dapur) mereka.

” Yah… aku ditinggal sendiri deh, hehe… ” katanya setelah temannya pergi. ” Lho, kenapa? ” ” Jam istirahat… tadi aku uda istirahat 3 jam… dan habis ini giliran shift kedua istirahat. mestinya berdua-berdua, tapi supervisorku katanya migraine jadi dia istirahat di first class.

Mungkin 2 jam lagi baru balik. Untung aja gak penuh… ”

” Oh… gitu… ya… gapapa deh… aku temani… aku bosen banget dari tadi di atas… sebelahku oom gendut yg ngorok melulu lagi… ”

Faira tertawa. Manis sekali wajahnya kalau tertawa. Dan aku mulai meneliti tubuhnya. Sekitar 165 cm, berat badannya mungkin 55 dan kulitnya putih sekali seperti orang Jepang.

” Kamu beneran nih belum punya cowok?” tanyaku iseng. ” Lagi ga ada… soalnya cowok terakhir membosankan banget. Dia ga fun dan old fashion… ”

Lalu ia mulai bercerita tentang mantannya yang masih menganut adat kuno, yang ga suka clubbing, pesta, minum dan tentu saja seks. Wajahnya memerah ketika ia bercerita.

” Maaf ya, aku kok jadi cerita kayak gini… hihi… habis memang mantanku itu orangnya aneh. Atau mungkin dia ga tertarik sama aku ya… mungkin aku terlalu jelek ya… ” katanya menerawang.

” Gak, kok… kamu cantik banget… dan… ” aku menatap matanya, ” seksi… bodi kamu seksi banget. Daritadi aku membayangkan bodi kamu di balik seragam itu… ” tambahku dengan berani. Mungkin aku mulai mabuk karena dua gelas white wine.

” Masa? Kamu boong ya… Joe… aku kan ga seksi. Toketku aja cuma 34B, hmmm ga seksi sama sekali deh… ” Aku menatapnya dengan penuh napsu. 34B, boleh juga… ” Kalau kamu kasi aku fairat, aku mungkin bisa menilai apa bodi kamu seksi beneran atau gak… ” tantangku.

Faira tampak terkejut. Tapi ia lalu melihat ke kiri ke kanan, sekeliling kami agak gelap karena semua penumpang kelas bisnis nampaknya tengah terlelap. Ia tersenyum padaku ,” Beneran nih? ” ” Sumpah… ” Lalu Faira memberi isyarat agar aku mengikutinya.

Ia lalu mulai berjalan ke arah toilet untuk orang handicapped, yang lebih luas daripada toilet biasa. Ia menarikku masuk dan mengunci pintunya dari luar. Di dalam toilet ternyata lebih bising daripada di luar, mungkin karena suara mesin.

Aku langsung membuka seragam pramugarinya yang bagian atas. Dan tampaklah dadanya yang indah menantang. Ia memakai bra seksi tanpa busa berwarna hitam, putingnya tampak tegang dari balik bra itu.

” Faira… kamu seksi banget… ” desisku sambil lebih mendekatinya, dan langsung mencium bibirnya yang ranum berlipstick pink. Faira membalas ciumanku dengan penuh gairah, dan aku mendorong tubuhnya ke dinding toilet.

Tanganku membekap dadanya dan memainkan putingnya dari luar bra nya. Faira mendesah pelan. Ia menciumku makin dalam. Aku lalu berusaha menarik roknya sampai lepas, dan kini tampaklah tubuh ramping seksinya.

Tinggalah celana dalam dan bra berwarna hitam transparan serta sepatu hak tingginya. Ia tampak amat seksi. ” God, u re so sexy, baby… ” bisikku di telinganya.

Lalu tanganku langsung sibuk membuka kaitan bra nya, dan menciumi lehernya yang indah.Faira mulai meraba bagian depan celana jeansku, dan tampak senang menyentuh bagian itu sudah tegang. Setelah branya lepas, aku langsung menciumi seluruh payudaranya.

Kujilati putingnya yang mengeras dan ia melenguh nikmat. Aku ingat, pacarku paling suka kalau aku berlama-lama di putingnya.

Tapi kali ini tidak ada waktu, karena siapa saja bisa mengetuk pintu toilet, dan itu membuatku bergairah.

Faira mulai berusaha membuka ikat pinggangku, dan kemudian melorotkan celanaku sampai ke lantai. Ia menyentuh kont*lku yang keras dari balik boxer kainku, dan mengusap biji pelirku. Kunaikan tubuh Faira ke westafel dan kubuka celana dalamnya.

Kuciumi perutnya dan kubuka pahanya. Bulu kemaluannya rapi sekali. Mungkin ia suka bikini waxing seperti cewek-cewek di luar pada umumnya.

Kujilati mem*knya dengan nikmat, sudah sangat basah sekali. ia mengelinjang dan kulihat dari cermin, ia meraba putingnya sendiri, dan memilin-milinnya dengan kuat.

Mungkin memang benar dia terlalu hyper, makanya mantannya bosan.

Kumasukan dua jari tanganku ke dalam mem*knya, dan ia menjerit tertahan. Ia tersenyum padaku, tampak sangat menyukai apa yg kulakukan. Jari telunjuk dan tengahku menyolok-nyolok ke dalam fairangnya, dan jempolku meraba-raba kasar klitorisnya.

Ia makin membuka pahanya, membiarkan aku melakukan dengan leluasa. Semakin aku cepat menggosok klitorisnya, semakin keras desahannya. Sampai-sampai aku khawatir akan ada orang yg mendengar dari luar.

Lalu tiba-tiba ia meraih kepalaku, dan seperti menyuruhku menjilati mem*knya.

” Ahhh… ahhh… I’m gonna come… Arghhhh… uhhh… yes… yes… baby… ” ia mendesah-desah girang ketika lidahku menekan klitorisnya kuat2.

Dan jari-jariku makin mengocok mem*knya. Semenit kemudian, Faira benar-benar orgasme, dan membuat mulutku basah kuyub dengan cairannya. Ia tersenyum lalu mengambil jari2ku yang basah dan menjilatinya sendiri dengan nikmat.

Ia lalu mendorongku duduk di atas toilet yg tertutup, dan mencopot boxerku dengan cepat. Ia duduk bersimpuh dan mengulum kont*lku yang belum tegak benar. Jari-jarinya dengan lihay mengusap-ngusap bijiku dan sesekali menjilatnya.

Baru sebentar saja, aku merasa akan keluar. Jilatan dan isapannya sangat kuat, memberikan sensasi aneh antara ngilu dan nikmat.

Faira melepaskan pagutannya, dan langsung duduk di atas pangkuanku. Ia bergerak- gerak sendiri mengocok kont*lku dengan penuh gairah.

Dadanya naik turun dengan cepat, dan sesekali kucubit putingnya dengan keras. Ia tampak sangat menyukai sedikit kekerasan.

Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiri dan mengangkat tubuhnya sehingga sekarang posisiku berdiri, dengan kakinya melingkar di pinggangku.

Kupegang pantatnya yang berisi dan mulai kukocok dengan kasar. Faira tampak sangat menyukainya. Ia mendesah-desah tertahan dan mendorong kepalaku ke dadanya. Karena gemas, kugigit dengan agak keras putingnya. Ia melenguh ,

” Oh… gitu Joe… gigit seperti itu… I feel ******.. ” Kugigit dengan lebih keras puting kirinya, dan kurasakan asin sedikit di lidahku.

Tapi tampaknya Faira makin terangsang. kont*lku terus memompa mem*knya dengan cepat, dan kurasakan mem*knya semakin menyempit… ” gila… mem*k lo kok menyempit gini, sih Faira… Oh… gila… ” Ia tersenyum senang.

Mungkin ia suka latian body language, soalnya dulu mantanku yang guru BL, bisa mengatur mem*knya jadi sempit jadi gini, dengan latihan rutin.

kont*lku keluar masuk mem*knya dengan lebih cepat, dan tiba-tiba mata Faira merem melek, dan ia semakin menggila, lenguhan dan desahannya semakin kencang hingga aku harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannku.

” Ah joe… You’re so… soo… Ohh… i am gonna come… i m gonna come… again… Arghhh… Ohhhhh uhhhhhh… ”

Faira orgasme untuk kedua kalinya dan terkulai ke bahuku. Karena aku masih belum keluar, aku mencabut kont*lku dari mem*knya yang banjir cairannya, dan membalikan tubuhnya menghadap westafel.

Biasa kalau habis minum staminaku memang suka lebih gila. Faira tampak mengerti maksudku, ia menunggingkan pantatnya, dan langsung kutusuk kont*lku ke mem*knya dari belakang.

Ia mengeram senang, dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari cermin di depan kami. Ia tampak terangsang, seksi dan acak-acakan. Make upnya luntur karena keringat, tapi tubuh seksinya tampak sangat indah.

Aku mulai memompa mem*knya dengan pelan, lalu makin cepat, dan tangan kiriku meraih puting payudaranya, dan memilinnya dengan kasar, sementara tangan kananku sesekali menepuk keras pantatnya. ” yeah… I am your bitch… fu*k me real hard… please… ”

Buset… ga nyangka penampilan manisnya ternyata hanya di luar. Aslinya dia kasar dan gila seks, kaya bule di bokep aja, pikirku makin terangsang. kont*lku makin cepat menusuk2 mem*knya yang semakin lama semakin terasa licin.

Tanganku berpindah-pindah, kadang mengusap-ngusap klitorisnya dengan cepat. Badan Faira naik turun sesuai irama kocokanku, dan aku semakin horny melihatnya menggumamkan kata-kata kasar. kont*lku semakin tegang dan terus menghantam mem*knya dari belakang.

Ia mau orgasme lagi, rupanya, karena wajahnya menegang dan ia mengarahkan tanganku mengusap klitorisnya dengan lebih cepat. ” Ah… baby… yeah… oh yeah… ” kont*lku terasa makin becek oleh cairan mem*knya.

“Faira… aku juga mau keluar nih… ” ” oh tahan dulu… kasih aku… kont*lmu… tahan!!!!” Faira langsung membalikan tubuhnya, dan mencaplok kont*lku dengan rakus. Ia mengulumnya naik turun dengan cepat seperti permen, dan dalam itungan detik, menyemprotlah cairan maniku ke dalam mulutnya.

” ArGGGhhhh!! Oh yes !! ” erangku tertahan. Faira menyedot kont*lku dengan nikmat, menyisakan sedikit rasa ngilu pada ujung kont*lku, tapi ia tidak peduli, tangan kirinya menekan pelirku dan kanannya mengocok kont*lku dengan gerakan makin pelan.

Kakiku lemas dan aku terduduk di kursi toilet yg tertutup. Faira berlutut dan menjilati seluruh kont*lku dengan rakus.

” Kamu takut gak, kalau aku bilang, aku suka banget sama sperma cowok ?” bisiknya dengan suara manis sekali. Di sela-sela engahanku, aku menggeleng penuh kenikmatan. Gila kali mantannya, ga mau sama cewek hot begini… !!

Setelah Faira menjilat bersih kont*lku, ia memakaikan celana jeansku, lalu memakai seragamnya sendiri. Ia membuka kompartemen di belakangnya, dan mengeluarkan sisir dan makeupnya dari sana.

Dalam waktu 5 menit, ia sudah tampak seperti pramugari manis yang tadi pertama kulihat, bukan wanita gila seks seperti barusan. Ia memberi isyarat agar aku tidak bersuara, lalu perlahan-lahan membuka pintu toilet.

Setelah yakin aman, ia keluar dan aku mengikutinya dari belakang.

” Baiklah, Pak Joe… saya harus siap-siap untuk meal service berikutnya, mungkin Bapak mau istirahat sejenak? ” godanya dengan nada seksi.

Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Sebelum aku ke upper deck, kucubit pantatnya dan ia memberiku ciuman yang sangat panas.

Habis flight itu, ia memberiku nomer telpon hotelnya di LA, dan kami ngeseks gila-gilaan tiap hari. Ternyata Faira sangat hyper sex dan bisa orgasme sampai sembilan kali seharinya. Sedangkan aku hanya mampu bucat 2 kali sehari.

Dalam flight kembali ke LA, aku mengupgrade kursiku ke first class , karena ia bertugas di first class. Dan sekali lagi kami have sex di toilet, dan kali ini hampir ketauan teman kerjanya.

Kami masih sering ketemu sampai hari ini. Kalau aku ke kota dimana dia tinggal.

Pacarku? Masih jalan juga lah… jadi punya dua cewek, deh…

Thursday, February 11, 2016

Cerita Sex: Bercinta Dengan Teh Riana

Cerita Sex: Bercinta Dengan Teh Riana


Perkenalkan nama saya Vovan, saya sekarang berusia 29 tahun. Saya mo berbagi cerita sedikit dengan pembaca tentang pengalaman seks saya yang menurut saya lumayan tuk disimak.


Cerita dimulai ketika saya umur sekitar 23 tahun dimana saat itu saya masih belajar di perguruan tinggi swasta di kota B tempat tinggal saya.

Seperti biasanya di komplek tempat tinggalku sering diadakan acara sebulan sekali tuk mempererat hubungan antar warga, entah itu makan-makan atau acara band anak komplek.

Hari itu acara selesai pada pukul 11 malam, saya dan teman-temanku mulai membereskan sisa-sisa acara, setelah selesai temanku yang bernama Hadi bilang

“ kita jalan yuk? Gue males nih langsung balik. Besokkan hari libur.”. Saya dan Iwan menjawab setuju usul tersebut, tapi masih ada pertanyaan dari Iwan,

“ mo kemana kita?” Hadi pun berkata
“ ketempat temanku, tempatnya lumayan asik.”. tanpa menunggu lama kitapun melangkah pergi menuju tempat tersebut.

Ternyata yang dimaksud oleh Hadi temanku adalah sebuah rumah dimana tinggal temannya bernama Johan, dia tinggal bersama bibinya yang pegawai bank di kotaku.

Ternyata tempatnya asik karena segalanya ada, dari PS, musik plus sound system yg mantap tak lupa bermacam multimedia ditambah dirumah tersebut Bibinya sangat ramah dan membebaskan kita, seperti minum alkohol dan kadang ber-ganja ria.

Oh iya bibinya bernama Riana ( biasa kita panggil teh Riana ) umur 29 tahun dan ditinggal mati suaminya dan tanpa anak, orangnya baik, cantik, putih dengan tinggi badan 168cm dan ukuran bh 34B.

Singkat cerita saya akrab dengan Johan dan sering kerumah itu tuk sekedar nongkrong, bermain PS dan kadang- kadang suka curhat ke teh Riana, karena memang orangnya asik sekali.

Pada suatu ketika dia pernah nanya ke saya,

” Van koq gak pernah bawa ceweknya kesini? Kan Teteh mau lihat, pasti cantik ya?”
“Ah teteh biasa aja koq, dia orangnya pemalu teh” jawabku sekenanya karena saya lagi sibuk sama musuhku di PS. (hehehe).

Tidak berapa lama ada pertanyaan dia yang mengejutkan saya.

“ Van kamu ngapain aja sama cewek kamu, maksud teteh dah pernah ML ya?” Saya jawab
“ pernah sih teh, emang kenapa teh?”
“ Ah gak apa-apa, tapi pernah juga sama cewek lain?”
“pernah sih teh”.

Kemudian dia beranjak menuju dapur dan tidak berapa lama kembali dengan 2 gelas sirup yang salah satunya diserahkan kepada saya. Teh Riana menanyakan lagi

“Udah berapa cewek yang tidur sama kamu Van?.” Sambil tetap mata tertuju ke layar tv saya menjawab sekenanya,
”lumayan teh, bahkan ada yang udah berusia 30an, kata orang sih itu tante-tante, tapi saya sih yang penting asik-asik aja teh.” Lalu kami lanjutkan obrolan ke berbagai masalah.

Seminggu kemudian saya bertandang lagi ke rumah Johan, saat itu selepas magrib dan katanya Johan sedang keluar, mau tak mau saya menunggu sampai dia pulang ditemani oleh teh Riana.

Sekitar pukul 20:30 hujan turun dengan derasnya dan tak terasa hujan tak berhenti sampai pukul 22:30. Terdengar bunyi telepon dan teh Riana mengangkatnya dan sekitar 10 menit kemudian dia menutupnya kembali.

Dia berjalan kearah saya dan berkata,

“ itu tadi dari Johan, kata dia sepertinya nginap dirumah temannya karena hujan tak kunjung reda.” Tak jadi deh ketemu Johan, lalu saya berkata,

” kalau begitu saya pulang saja teh.” Langsung saja dia jawab,
” Tunggu dulu kan masih hujan, bagaimana kalu Vovan menginap disini, besok pagi baru pulang?” Sambil berpikir betul juga dan memang besok hari libur, saya iyakan saja maksud teh Riana.

Malam itu kita ngobrol sampai pukul 01:30 dan akhirnya saya minta izin untuk tidur di kamar Johan, dan teh Riana pun mengiyakan.

Tiba-tiba ditengah tidurku saya merasakan ada sesuatu yang mengelus-elus rambut dan dadaku, saya berusaha untuk tetap tidur dan membuka mata sedikit untuk mencari tahu siapa gerangan dan juga lampu kamar saya matikan.

Ternyata teh Riana yang melakukan itu dan saya pun tetap berusaha untuk tidak bangun. Lama-lama gerakan teh Riana semakin berani, pelan-pelan dia kecup pipiku, keningku dan mulai mengecup bibirku. Terasa sekali lidahnya berusaha tuk membuka bibirku.

Akhirnya lidahnya berhasil masuk kedalam mulutku dan mengait-ngait lidahku, terdengar nafasnya mulai memburu dan yang saya rasakan badan teh Riana mulai panas.

Tak berapa lama tangannya masuk kedalam kaosku tuk membelai dadaku setelah itu tangannya meluncur kebawah dan mulai menyusup kedalam celana jeansku.

Seketika itu juga sayapun bangun, tetapi dia tidak menampakan wajah yang terkejut dan hanya sinar matanya yang sayu dia menatapku sambil berkata,

“ Van maafkan teteh ya?, teteh sudah lama tidak beginian, teteh ingin Van..” Lalu sayapun duduk dipinggir tempat tidur dan berkata,

“ Tapi bagaimana dengan Johan teh?, saya tidak mau dia akan membenci saya karena saya tidur dengan bibinya..”

“ Biarkan saja Van, ini akan jadi rahasia kita berdua tanpa Johan tahu.” Saya pun berdiri dan berkata
“ Saya ke kamar mandi dulu teh, tuk bersih-bersih dulu.” Saya tidak mau bermain dalam keadaan daerah mr.P-ku tercium bau yang tak sedap.

Setelah keluar dari kamar mandi sayapun terkejut dengan pemandangan dihadapan saya, teh Riana telanjang bulat tanpa sehelai benangpun diatas ranjang, dan tersenyum manis sekali kepadaku, dan ternyata dia menyalakan lampu kecil didalam kamar Johan sehingga lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas.

Tak terasa kontolku pun berdiri tegak didalam cdku, dan terlihat oleh teh Riana. Dia memandang ke arah cdku tanpa berkedip, segera saja di membelai permukaan cdku.

Terlihat sekali kalau teh Riana sudah dibakar nafsu birahi yang sangat tinggi, sambil mengusap permukaan cdku, saya kecup bibirnya dan dia langsung membalas dengan ganas sekali.

Tak tinggal diam tangan kiriku menari-nari mengelus punggungnya dan tangan kananku bergerak turun menuju bukit kembar yang sangat mempesona itu.

Langsung saja saya remas lembut dan sesekali saya buat gerakan memutar dan memilin putting susunya yang sudah sangat keras mencuat itu.

“ Hekh.. Van teruss… oohhh…” Bibirku segera menusul kebawah menuju payudaranya, dan tanpa disuruh lagi saya langsung melumat putting kirinya dengan lembut dan terkadang saya sedot sedikit kasar, saya ingin membuat teh Riana sangat menikmatinya.

Rambutku sudah diacak-acak oleh teh Riana yang tak kuat menahan nafsu, lalu saya berdiri tuk diam sejenak dan itu membuat teh Riana sedikit bingung dan berkata,” kenapa diam Van, teteh udah pengen nih..” Lalu saya peluk dia dan berbisik,

“ Teh kita main polisi dan maling yuk? Saya polisinya dan teteh malingnya” teh Riana tampak sedikit bingung, tapi dia mengiyakan saja dan terserah saya mau apakan dia malam ini, terlihat sekali nafsunya sudah di ubun-ubun… Crooot.. hahaha….

Lalu saya segera membalikkan posisi kursi sofa menghadap tembok sehingga bagian untuk duduk menempel ketembok dan bagian yang tinggi menjauh dari tembok.

Lalu saya tuntun teh Riana menuju kursi tersebut dan menyuruhnya tuk memegang tembok dan pinggangnya bersandar pada bagian yang tinggi dari sofa tersebut, lalu saya renggangkan kakinya seperti polisi yang sedang mencari barang bukti di sekujur tubuh seorang maling.

Segera saja saya peluk dia dari belakang dan mencium telinga dan tengkuk teh Riana tak ketinggalan kedua tangan saya meremas-remas payudaranya dari belakang.

“ ooohhh Van, achhh.. hemmm..” bibirku terus menuju ke pundaknya dan terus meluncur kebawah kearah bongkahan pantatnya, dia pun bergelinjang geli menahan serangan-seranganku.

Akhirnya lidahku berhenti di bongkahan pantatnya dan kujilat memutar disekitar pantatnya, dia pun tampak geli sekali tapi saya bilang,

“jangan bergerak.” Lalu saya renggangkan lagi kakinya semakin lebar supaya terlihat jelas memeknya dari belakang, saya menguak kedua daging pantatnya dan.. Wooow….

Terlihat gundukan daging yang terbelah dimana ujung atasnya menyembul keluar secuil daging yang tampak mengkilap dan dilengkapi dengan bulu-bulu hitam yang tercukur rapi.

Nafsuku semakin tinggi melihat pemandangan indah tersebut dan berusaha menahan dan mengaturnya karena berniat tuk memberikan yang terindah kepada teh Riana malam itu.

Perlahan-lahan saya saya buka memeknya dengan kedua jari saya, merah mengkilap isinya.

Lalu saya jilat pelan-pelan dari klitoris menuju lubang memeknya, saya lakukan berulang kali dan ternyata sudah sangat basah memek teh Riana.

“ Haahh… oohhh.. Vovan.. te..russs… sayang..”. semakin lama semakin saya kuatkan jilatan saya dan tak lupa saya sedot-sedot klitorisnya dengan kuat.

“Achh.. Vovan iya.. begitu yang kuat sayang.. hemmm..” Badan teh Riana semakin bergetar menahan geli dan nikmat yang amat sangat.

Tangannya meremas-remas payudaranya sendiri. Sekitar tujuh menit berlangsung, terlihat badannya mulai menunjukan tanda-tanda mau orgasme.

“ teruuss sayaang.. oohhh… bentar lagi saayaang..” dan seketika itu saya hentikan, saya ingin mempermainkan dia dulu supaya apa yang akan dia capai nanti akan menjadi sangat hebat.

Seperti kendaraan saya memainkan Rpm-nya, disaat jarum hampir mencapai danger area (red area) saya kendorkan lagi gas yang saya injak. Hehehe….

Seperti anak kecil yang tidak mendapatkan mainannya dia tampak gusar sekali, nafasnya terengah-engah.

“ achhh Van kenapa berhenti, dikit lagi sayang..” lalu saya bilang,
“ sabar teteh sayang, masih panjang permainan kita.

” Lalu saya yang bersandar sekarang pada punggung sofa sekarang dan minta gantian diservice oleh teh Riana, dengan muka sedikit cemberut diapun turun kearah selangkanganku.

Terlihat jelas cdku mengembung dan tampak helm kontolku keluar dari cdku, teh Riana tersenyum melihat itu. Lalu dibukalah cdku dan melompatlah keluar seluruh batang kontolku yang sudah tegak dan sangat keras sekali.

“ besar sekali Van, pasti enak sekali kontolmu sayang.” Saya tersenyum mendengar kata-katanya dan memang lumayan besar punyaku dengan panjang 17cm dan diameter sekitar 4,5cm.

Tanpa basa basi dia mulai mengocok dan menjilati kontolku, geli dan nikmat sekali yang kurasakan.

Apalagi disaat teh Riana berusaha memasukan kontolku kedalam mulut munginya itu, achh.. terasa hangat sekali rongga mulutnya.

Digerakkan maju mundur kepalanya sehingga kontolku tambah tegang dan menonjolkan urat-uratnya yang perkasa. Sayapun melayang dibuatnya. Sekitar 10 menit dia melakukan oral kepadaku, sayapun mengajak dia ketempat tidur tuk mulai dengan adegan baru.

Diatas tempat tidur saya meminta dia untuk melakukan gaya 69. Selangkangannya tepat diatas kepalaku dan tampak terlihat lendirnya yang mengalir di permukaan pahanya akibat aksiku yang tadi.

Terasa hangat dan nikmat ketika kontolku mulai disedot oleh teh Riana, dan tanpa buang waktu saya hisap lender yang mengalir keluar dari memeknya dan setelah habis lalu langsung menyedot klitorisnya dengan kuat.

“ hemph Van.. hemmm…” teh Riana terdiam sesaat dengan kontolku didalam mulutnya menikmati sedotanku pada klitorisnya.

Gerakannya semakin liar disaat ku jilat dengan rakus lubang memeknya. Kira-kira sekitar 10 menit badannya semakin tak terkendali, dicengkeramnya dengan kuat batang kontolku sehingga sedikit sakit,

“ oohhh.. Vovan sayang.. te..russs.. ackhhh… bentar lagi..” Seamakin kupercepat jilatanku didalam lobang memeknya dan menekan kuat klitorisnya, dan tiba-tiba badannya bangun sehingga dia menduduki mukaku.

Pantatnya meliuk-liuk seperti orang menari jaipongan diatas mukaku sehinggga mukaku habis tertekan oleh selangkangannya, dan

“ Aaackhhh.. sayang.. teteh keluar.. ohhhh…ohhh..” dia menjerit keras ketika mendapatkan orgasme pertamanya yang hebat sekali.

Badannya bergetar hebat dan terasa sekali oleh lidahku ketika didalam memeknya mengalir cairan surganya yang tumpah, dia mendiamkan memeknya di mukaku sekitar 3 menit, kemudian dia berguling kesampingku.

“Van enak sekali sayang, terasa terbang tadi..” Ketika dia melihat mukaku yang blepotan oleh lendir memeknya, dia tersenyum dan langsung dijilati mukaku sampai bersih.

Sekitar 5 menit saya biarkan dia beristirahat. Sayapun bangun dan mengatur posisi berada diselangkangannya, saya gosokkan kontolku dibibir memeknya dan klitorisnya, badannya bergetar menerima gesekan tersebut.

“Van pelan-pelan masukinnya sayang, udah lama sekali gak pernah..” saya mengangguk mengiyakan, kutekan pelan-pelan dan memang terasa sulit sekali tuk memasuki memeknya.

Setelah berulang kali akhirnya masuk juga walau baru seperempat dari kontolku.

“ heckh.. pelan sayang, sakit..”. Kumaju mundurkan pelan-pelan sampai memeknya terbiasa, lalu kutekan lagi sampai masuk tiga per empatnya dan melakukan gerakan maju mundur dengan lembut.

Kepala teh Riana terlempar kekiri dan kekanan, bola matanya putih semua dan dari mulutnya terdengar seperti orang yang kepedasan.

“ haaahh.. achhh.. Vovan sayang.. haahh.. hemmm..” kupeluk dirinya sambil melumat bibirnya dan dia membalasnya dengan sangat buas.

Kutarik kontolku dan meninggalkan sisa kepala kontolku didalam memeknya, dan dengan tiba-tiba saya tekan sekuatnya sehingga habis kontolku tertelan didalam memeknya, terasa mentok sampai pintu rahimnya.

Kakinya langsung mengejang dan mengangkang selebar-lebarnya dan teh Riana menggigit bibir bawahku sehingga sedikit berdarah.

“ Ackhh.. sa..kit.. sayang.. ackh..” kudiamkan sejenak kontolku didalam memeknya supaya memeknya terbiasa.

Setelah itu kumaju mundurkan dengan lembut sampai memeknya becek sekali. Setelah 5 menit gerakanku berubah total, gerakanku menjadi liar dan ganas, kontolku memompa memeknya dengan keras, badan teh Riana berguncang hebat, pantatnya mengimbangi dengan cara meliuk-liuk mengikuti gerak hentakanku, rambutku habis diacak-acaknya.

“ Terus sayang.. ohhh.. y


ang dalam .. Achhh..” kakinya bergerak melingkari pinggangku dan mulutnya menciumku dengan ganas, terdengar indah jeritan nikmat teh Riana dikamar itu.

Selang 5 menit pantat teh Riana bergerak liar, nafasnya semakin memburu, mukaku habis dicium oleh dia, tiba-tiba badan dan pahanya mengejang kaku dan kini gantian daguku yang digigitnya sekarang.

“ Ackhhh.. sayang.. teteh.. keluar… ackhh… aduuuhhh… hemmm..” Kudiamkan kontolku didalam memeknya dan sesekali kutarik masuk dengan lembut sekali.

Sekitar 3 menit teh Riana merasakan orgasmenya tuk kedua kalinya. Kemudian saya berguling kesamping dan memeluknya.

Matanya terpejam dan terlihat sisa-sisa kenikmatan diraut wajahnya.

“ Enak sekali sayang, baru kali ini teteh merasakan yang seperti ini, rasanya memek teteh mau meledak.” Sayapun tersenyum mendengarnya, lalu tanpa banyak tanya saya buka selangkangannya dan lalu saya jilati memeknya.
“ Oooh Vovan, geli sayang.. nanti dulu sayang.. ackhh..” Saya tidak memperdulikan ucapannya, saya mau merasakan lagi cairan cintanya dan yang paling utama kontolku sudah mau meledak rasanya.

Saya hisap habis lendir di dalam memeknya dan selang dua menit gairahnya mulai bangkit terdengar dari nafasnya yang mulai memburu.

Saya pun memintanya tuk doggy style, setelah dia menungging tampak memeknya yang menggembung merah yang minta tuk segera ditusuk oleh kontolku.

Kali ini tidak terlalu susah kontolku masuk kedalam memeknya, seperti biasa saya masukan dulu tiga per empatnya dan bergerak lembut maju mundur.

Selang tiga menit kuhentakkan kuat sehingga kontolku amblas semua di dalam memeknya.

“ Ackhh.. Vovan.. hemm.. enaks..” Terasa sekali mentok didalam, dan bibir memeknya ikut-ikutan masuk kedalam dan keluar ketika kontolku bergerak mundur. Semakin lama gerakanku semakin cepat dan pantat teh Riana pun bergoyang indah mengikuti irama.

“ Ohhh.. sayang.. yang kuat saayaang.. teteh hampir keluaar.. ohhh..”,
“ Sama teh, saya juga hampir…” Kita berdua terus memacu birahi, keringat mengucur deras di tubuh kita masing-masing.

Plok.. plok..plok.. suara yang terdengar indah dari peraduan kontolku dan memeknya.

Selang empat menit kemudian pantat teh Riana mulai mengejang, tangannya meremas-remas liar payudaranya sendiri, dan akhirnya dia pun teriak.

“ Ackhhhh.. teteh keluar.. ohhhh… enak sekali sayang.. ackhh…” Terasa memeknya memilin-milin kontolku didalam.

Kutarik badannya hingga sejajar dengan badanku, sehingga setengah berdiri. Ku peluk perutnya dari belakang dan tanganku meremas susunya dengan kencang.

Gerakan kontolku semakin kencang menghujam memeknya dari belakang, nafasku pun semakin cepat memburu tuk mengejar sesuatu yang indah yang menungguku didepan sana.

“ Ackhh… ackhh… aduuhhh..” Kata-kata tersebut yang keluar dari mulut teh Riana.

Setelah dua menit kurapatkan tubuhnya ke tubuhku dan tiba-tiba teh Riana kembali menjerit,

“ Aduuuhh.. sayang, teteh keluar lagi.. ackhhh… nikmats.. aduuhhh… ohhh…” Saya pun segera menyusulnya,
“ Ackhh.. teh.. saya keluar..” croot…crott..crott..

7 kali semburan sperma saya tembakan ke dalam lobang memeknya, setiap semburan disambut dengan remasan memek dan desahan dari teh Riana, sangat indah sekali pada saat itu.

Setelah itu saya dan dia menuju tempat tidur tanpa melepas kontolku dari memeknya. Kami pun berbaring dan dia berkata,

“ Makasih ya Van, tadi itu sangat indah sekali.” Sambil memeluknya dari belakang saya kecup bibirnya dengan lembut dan dia pun membalasnya.



































Kami pun tertidur dengan masih berbugil ria dan saya masih memeluknya dari belakang. Sekitar jam 6 pagi saya terbangun dan kaget melihat kesamping dan ternyata teh Riana sudah tidak ada disampingku.

Ada perasaan aneh di selangkanganku dan ketika kulirik kebawah ternyata teh Riana sedang mengoral kontolku yang sudah berdiri tegak nan perkasa dengan senyum yang sangat manis di bibirnya

“Lagi deh..”

Setelah kejadian hari itu saya dan teh Riana menjalin hubungan tanpa harus memutuskan pacarku, dia sendiri yang bilang jangan memutuskan pacarku.

Temanku Johan pun tak tahu hubungan kami. Setiap ada waktu selalu kita lewati tuk bersama, entah itu dirumahnya atau di kamar-kamar hotel yang sudah dipesannya.

Dia juga selalu membantuku dalam hal keuangan walau kadang saya tolak.

Sekitar 2 tahun yang lalu dia menikah dengan seorang pejabat di pemerintahan daerah, sebelumnya dia minta izin kepadaku tuk menikah … hahaha jadi lucu. Sekarang dia sudah pindah ke kota C disamping kotaku ikut suaminya, dan sering dia telepon saya kalau dia sangat rindu. Semoga bahagia Teh Riana, I miss U so much.

Thursday, January 28, 2016

Cerita Sex: Tante Lagi Terangsang



Sebelumnya aku akan memberikan gambaran sekilas tentang tanteku ini. Tingginya sekitar 167-an, lingkar dadanya sekitar 34-an, pinggulnya 32-an, aku menambahkan “an” karena aku kurang tahu pasti besar masing-masing bagian tubuhnya itu.










Kejadian itu terjadi di kota Denpasar Bali, tahun 1998, aku waktu itu masih duduk dibangku 3 SMU di salah satu SMU di Denpasar. Tapi sekarang aku kuliah di Jakarta di salah satu kampus yang tidak begitu terkenal di Jakarta. Aku memang sudah lama sekali sangat menginginkan tubuh tanteku itu, tapi butuh penantian yang lama, kira-kira sejak aku SMP. Mulailah kuceritakan isinya.

Waktu itu sekitar jam 12.30 WITA, matahari benar-benar panasnya minta ampun, terus motorku endut-endutan. Wahh! benar-benar reseh dah. Tapi akhirnya aku sampai di kost-kostan, langsung saja aku ganti baju, terus sambil minum air putih, wuaahh, seger tenan rek. Lalu tiba-tiba belum kurebahkan badan untuk istirahat handphone-ku berdering, ternyata dari tanteku, lalu kujawab,

“Halo Tan, ada apa?”
“Kamu cepet dateng ya!” ucap tanteku.
“Sekarang?” tanyaku lagi.
“La iya-ya, masa besok, cepet yah!” ujar tanteku.

Lalu aku bergegas datang ke rumah tanteku itu.

Sesampainya di sana, kulihat rumahnya kok sepi, tidak seperti biasanya (biasanya ramai sekali), lalu kugedor pintu rumah tanteku. Tiba-tiba tanteku langsung teriak dari dalam. “Masuk aja Wa!” teriak tanteku. Oh ya, namaku Dewa. Lalu aku masuk langsung ke ruang TV. Terus aku tanya,

“Tante dimana sih?” tanyaku dengan nada agak keras.
“Lagi di kamar mandi, bentar ya Wa!” sahut tanteku.

Sambil menunggu tanteku mandi aku langsung menghidupkan VCD yang ada di bawah TV, dan menonton film yang ada di situ. Tidak lama kemudian tanteku selesai mandi lalu menghampiri aku di ruang TV. Oh my god! Tanteku memakai daster tipis tapi tidak transparan sih, tapi cetakan tubuhnya itu loh, wuiihh! Tapi perlu pembaca ketahui di keluargaku terutama tante-tanteku kalau lagi di rumah pakaiannya seksi-seksi.

Aku lanjutkan, lalu dia menegurku.

“Sorry ya Wa, Tante lama.”
“Oh, nggak papa Tante!” ujarku rada menahan birahi yang mulai naik.
“Oom kemana Tante?” tanyaku.
“Loh Oom kamu kan lagi ke Singaraja (salah satu kota di Bali),” jawab tanteku.
“Memangnya kamu nggak di kasih tau kalo di Singaraja ada orang nikah?” tanya tanteku lagi.
“Wah nggak tau Tante, Dewa sibuk sih,” jawabku.
“Eh Wa, kamu nggak usah tidur di kos-an yah, temenin Tante di sini, soalnya Tante takut kalo sendiri, ya Wa?” tanya tanteku sedikit merayu.

Wow, mimpi apa aku semalam kok tanteku mengajak tidur di rumahnya, tidak biasanya, pikirku.

“Tante kok nggak ikut?” tanyaku memancing.
“Males Wa,” jawab tanteku enteng.
“Ooo, ya udah, terus Dewa tidur dimana Tan?” tanyaku lagi.
“Mmm.. di kamar Tante aja, biar kita bisa ngobrol sambil nonton film, di kamar Tante ada film baru tuh!” ujar tanteku.

Oh god! what a miracle it this. Gila aku tidak menyangka aku bisa tidur sekamar, satu tempat tidur lagi, pikirku.

“Oke deh!” sahutku dengan girang.

Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.

“Waa..! Dewaa..! udah mandi belum?” teriak tanteku memanggil.
“Bentar Tan!” jawabku.

Memang saat itu aku sedang membersihkan motor, melap motor adalah kebiasaanku, karena aku berprinsip kalau motor bersih terawat harga jualnya pasti tinggi. Pada saat itu pikiran kotorku dalam sekejap hilang. Setelah melap motor, aku bergegas mandi. Di kamar mandi tiba-tiba pikiran kotorku muncul lagi, aku berpikir dan mengkhayalkan kemaluan tanteku,

“Gimana rasanya ya?” khayalku.

Terus aku berusaha menghilangkan lagi pikiran itu, tapi kok tidak bisa-bisa. Akhirnya aku mengambil keputusan dari pada nafsuku kupendam terus entar aku macam-macam, wah pokoknya bisa gawat. Akhirnya aku onani di kamar mandi. Pas waktu di puncak-puncaknya aku onani, tiba-tiba pintu kamar mandi ada yang mengetuk. Kontan saja aku kaget, ternyata yang masuk itu adalah tanteku. Mana pas bugil, sedang tegang lagi kemaluanku, wah gawat!

“Sibuk ya Wa?” tanya tanteku sambil senyum manja.
“Eh.. mm.. so.. so.. sorry Tan, lupa ngunci,” jawabku gugup.

Tapi sebenarnya aku bangga, bisa menunjukkan batang kemaluanku pada tanteku. Panjang batang kemaluanku pas keadaan puncak bisa mencapai 15 cm, pokoknya “international size” deh.

“Oh nggak papa, cepetan deh mandinya, terus langsung ke kamar ya, ada yang pengen Tante omongin.”
“Oh my god, marah deh Tante, wah gawat nih,” pikirku.

Lalu aku cepat-cepat mandi, terus berpakaian di dalam kamar mandi juga, tidak sempat deh melanjutkan onani, padahal sudah di puncak.

Setibanya di kamar tanteku, aku melihat tante memakai celana pendek, sangat pendek, ketat, pokoknya seksi sekali, terus aku bertanya,

“Ada apa Tan, kayaknya gawat banget sih?” tanyaku takut-takut sambil duduk di atas tempat tidur.
“Enggak, Tante pengen cerita, tentang Oom-mu itu lho,” ujar tanteku.
“Emangnya Oom kenapa Tan?” tanyaku lagi.

Dalam hatiku sebenarnya aku sudah tahu oom itu orangnya agak lemah, jadi aku berharap tante menawarkan kemaluannya padaku. Dengan seksama aku medengarkan cerita tanteku itu.

“Sebenernya Tante nggak begitu bahagia sama Oom-mu itu, tapi dibilang nggak bahagia nggak juga, sebabnya Oom-mu itu orangnya setia, tanggung jawab, dan pengertian, yang bikin Tante ngomong bahwa Tante nggak bahagia itu adalah masalah urusan ranjang,” ujar tanteku panjang lebar.

“Maksud Tante?” tanyaku lagi.
“Ya ampun, masih nggak ngerti juga, maksud Tante, Oom-mu itu kalo diajak begituan suka cepet nge-down, nah ngertikan?” tanya tanteku meyakinkan aku.

“Ooo..” ucapku pura-pura tidak mengerti.
“Mmm.. Wa, mau nggak nolongin Tante?” tanya tanteku dengan nada memelas.
“Bantu apa Tan?” tanyaku lagi.
“Kan hari ini sepi, terus Oom-mu kan nggak ada, juga sekarang Tante lagi terangsang nih, mau nggak kamu main sama
Tante?” tanya tanteku sembari mendekatkan tubuhnya kepadaku.

Gila! Ternyata benar juga yang aku khayalkan, Tanteku minta! Cihui! ups tapi jangan sampai aku terlihat nafsu juga, pikirku dalam-dalam.

“Tapi Dewa takut Tante, nanti ada yang ngeliat gimana?” ucapku polos.
“Loh..! kan kamu ngeliat sendiri, emang di sini ada siapa? kan nggak ada siapa-siapa,” jawab tanteku meyakinkan.
“Ya udah deh,” ujar tanteku sambil memulai dengan menempelkan tangannya ke kemaluanku yang sebenarnya sudah menegang dari tadi.
“Wow.. gede juga ya! Buka dong celanamu Wa!” ujar tanteku mesra.

Lalu kubuka celanaku dengan cepat-cepat, dengan cepat pula tanteku memegang kemaluanku yang sudah over size itu. Sambil mengocok batang kemaluanku dengan tangan kirinya, tangan kanan tanteku memegang payudaranya dan mengeluarkan bunyi-bunyi yang merangsang.




“Emf.. ehm.. mm.. gede banget kemaluanmu Wa!” ujar tanteku.

Aku tidak terlalu mendengarkan omongan tanteku, soalnya aku sudah “over” sekali. Lalu tanteku mulai menempelkan kemaluanku ke mulutnya, dan dengan seketika sudah dilumatnya batang kemaluanku itu.

“Oh God! Eh.. eh.. ehm.. e.. nak.. Tante.. terus Tan..!” ujarku merasakan nikmatnya kuluman tanteku itu.

Tanteku lalu merebahkan tubuhku di atas ranjangnya, lalu dengan ganas ia menyedot batang kemaluanku itu, lalu ia memutar tubuhnya dan meletakkan liang kemaluannya di atas mukaku tanpa melepaskan kemaluanku dari mulutnya. Dengan sigap aku langsung menjilat liang kemaluan tanteku. Merasakan itu tanteku mengerang keenakan.

“Aaah.. Wa.. enak.. terus Wa.. terus jilat..!” erang tanteku keras-keras.

Mendengar itu, nafsuku makin bertambah, dengan nafsu yang menggebu jilatan ke kemaluannya kutingkatkan lagi, dan akibatnya tanteku mengalami orgasme yang dahsyat, sampai-sampai mukaku kena semprotan cairan kewanitaannya.

“Oh Dewa.. Tante sayang kamu.. uh.. ka.. ka.. mu ponakan Tante paling.. hee.. bat.. aah,” puji tanteku sambil mengerang merasakan nikmat.

Aku merasa bangga karena aku masih bertahan, lalu aku membalikkan tubuh tanteku sehingga ia terlentang.

Kuangkat kedua kakinya sehingga terpampanglah liang kemaluannya berwarna pink merekah. Sebelum aku mulai menu utamanya, pertama aku melucuti pakaiannya terlebih dahulu, setelah terbuka, aku mulai memainkan mulutku di puting payudaranya, dan kemaluanku yang telah “over” tadi kuletakkan di atas perutnya sambil menggesek-gesekkannya.

Perlahan aku menciumi tubuh tanteku dengan arah menurun, mulai dari puting terus ke perut lalu ke paha sampai akhirnya tiba di bibir kemaluannya. Dengan penuh nafsu aku menjilat, menyedot, sampai menggigit saking gemasnya, dan rupanya tanteku akan mengalami orgasmenya lagi.

“Ooohh.. Waa.. Tante mau kee.. luu.. aar! Aaah..!” erang tanteku lagi sambil menjambak rambut kepalaku sehingga wajahku terbenam di kemaluannya.
“Wa, udah ah, Tante nggak kuat lagi, Oom-mu mana bisa kayak gini, udah deh Wa, lansung aja tante pengen langsung ngerasain itu-mu.”

Tubuhnya kutopang dengan tangan kiri, sementara tangan kiri membimbing batang kemaluanku mencari sarangnya. Melihatku kesulitan mencari liang kemaluan tanteku, akhirnya tanteku yang membimbing untuk memasukkan batang kemaluaku ke liang kemaluannya.

Setelah menempel di lubangnya, perlahan kudorong masuk batang kemaluanku, dorongan itu diiringi dengan desahan tanteku.

“Egghmm.. terus Waa.. pelan tapi terus Wa.. egghhmm..!” desahan tanteku begitu merangsang.

Aku sebenarnya tidak senang dengan permainan yang perlahan. Akhirnya dengan tiba-tiba dorongan batang kemaluanku, kukeraskan sehingga tanteku teriak kesakitan.

“Aaahh.. Waa.. saakitt.. pelan-pelan.. aargghh..” teriak tanteku menahan sakitnya itu.

Dan tidak percuma, batang kemaluanku langsung terbenam di dalam liang kehormatannya itu. Setelah itu batang kemaluanku, aku maju-mundurkan perlahan, untuk mencari kenikmatan.

Dengan gerakan perlahan itu akhirnya tanteku menikmati kembali permainan itu.

“Ah.. uh.. terus Wa.. enak sekali.. itu-mu gede sekali.. egghh.. lebih enak dari Oom-mu itu.. terus Waa..” erang tanteku keenakan.

Lalu lama-lama aku mulai mempercepat gerakan maju-mundur, dan itu mendapat reaksi yang dahsyat dari tanteku, ia juga mulai memainkan pinggulnya, hingga terasa batang kemaluanku mulai berdenyut,

“Tan.. saya mauu.. kelu.. arr.. nih..!”
“Di dalam aja Waa.. Tante.. juugaa.. mauu keeluaarr.. aarrgghh..!”

Akhirnya kami keluar bersama-sama, kira-kira enam kali semprotan aku mengeluarkan sperma. Aaahh.. begitu nikmatnya.

Setelah itu kucabut batang kemaluanku dari liang kemaluan tanteku, terus kuberikan ke mulut tanteku untuk dibersihkan. Dengan ganas tanteku menjilati spermaku yang masih ada di kepala kemaluanku hingga bersih. Setelah itu tanteku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan aku tetap berada di kamar, tiduran melepas lelah.

Setelah tanteku selesai membersihkan diri, ia kembali ke kamar dan segera mencium bibirku, lalu ia bilang bahwa selama oom-ku di Singaraja, aku diharuskan tinggal di rumah tanteku dan aku jelas mengiyakan.

Lalu tante juga bertanya apakah keadaan kostku bebas, maka kujawab iya. Lalu tante bilang bahwa
kalau misalnya oom-ku ada di rumah, terus tanteku ingin main denganku, tanteku akan mencariku ke
kost, aku hanya manggut-manggut senang saja. Demikianlah pengalamanku dengan tante sendiri.

Tuesday, January 26, 2016

Cerita Sex : Jeritan Hot Tante Girang

Suatu hari yang cerah,, pagi pagi sekali sekitar pukul 8 pagi… kenapa ku sebut pagi,, ya biasanya seeh aku bangun tidur sekitar jam 11 Siang. Makannya jam 8 pagi aku sebut masih pagi-pagi sekali… he he he he.. Biasa seeh, setelah menjalani rutinitas keseharianku di malam hari, maklum sebagai freelance profesional alias pengacara pengangguran banyak acara.. Kalo malam aku banyak menghabiskan waktu,, kaya super hero Batman gitu lah he.. he .. he.. he..


http://winbet303.com/index.php 


“Bangun.. Bangun.. dah siang,, masih molor aja terus..” kata kakakku sambil mengoyak-mengoyak tubuhku dengan tergesa-gesa…

“Apaan sih,, orang lagi enak-enak tidur di gangguin aja” kataku sembari kesal…
“Cepat bangun, aku mau nyuruh kamu,, ke rumah mbak Fera!!! udah jangan kuatir nanti aku kasih uang bensin ama uang rokok deh” Sahut kakaku..

Dalam batin,, wah surprise niih fulus.. fulus.. lumayan lagi bokek.. untuk membasahi dompetku yang kering kerontang ini He he he he…

Segera aku bergegas bangun dari ranjang yang kumel ini…

“Udah sana buruan mandi Rif, ga enak sama mbak fera udah nungguin, karena kakak kemarin udah janji ma dia mau kasih uang setoran untuk bayar baju kakak, jam 8 pagi” Ucap kakaku untuk segera menyuruhku mandi.

“Oke” jawabku spontan, dalam hati berbisik kalau ada duitnya seeh ga pake lama dah langsung aku kerjain.

Byar.. Byur.. Byaaar.. suara air nan segar membasahi tubuh kekar yang penuh dosa ini.. Ha.. Ha.. Ha..
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku segera keluar kamar..

“Itu sarapan pagi, dimakan dulu” Kata kakakku sambil menunjuk meja makan, yang udah tersedia semangkok Soto hangat.

Ga Pake Lama dah langsung aku sikat aja tuh soto yang udah menggiurkan, apalagi perut ini udah mulai berorkestra ria, karena lapar..

“Ini uang untuk bayar setoran baju kakak ke mbak Fera!!” Ucap kakakku Sambil memberikan uang 50.000 kepadaku.

“Dan ini untuk beli bensin dan rokok kamu!” sembari memberikan uang 50.000 juga kepadaku..
“Wah tumben-tumbenan kasih duit sebanyak ini sama aku, baru cair ya, dapat jatah bulanan dari si Brotu” kataku sambil menggoda kakakku.

Yah begitulah nasib kakakku mujur banget dia,, paras cantiknya cuma dikasihkan sama Brondong Tua alias suaminya yang notabene umurannya jauh lebih tua daripada kakakku, malahan seperti bapak dengan anaknya.. Kagak seperti suami-istri dah.. Sumpeh ajib benar… Memang cinta sekarang bisa di beli dengan uang.. Hufftt..

Setelah makan pagi dengan semangkok Soto aku segera mengendarai motorku langsung meluncur ke TKP, ke rumah mbak Fera yang imut-imut..

“Kak, aku berangkat dulu ya,” ucapku penuh semangat mengemban misi untuk membayar hutang kepada si Rentenir cantik Hahahaha….
“Ya hati-hati, ga usah ngebut naik motornya” Sahut Kakakku..

Setelah beberapa menit sampe juga aku ke TKP,, di rumah mbak Fera..

Langsung aja aku ketuk pintu rumah mbak Fera… Tok tok tok tok suara pintu berbahan kayu jati di Rumah gedongan itu berbunyi…

Seketika muncul, cewek seksi membukakan pintu..

Terbelalak mata ini sampe tidak berkedip “Oh my god” pemandangan indah di pagi indah ini,, sungguh anugerah yang menyehatkan mata yang masih belekan ini.

Mbak Fera masih menggunakan baju tidur alias lingerie tipis berwarna merah muda yang seksi… membukakan pintu rumahnya untukku..

“Ehhhhh,, Arif,, sini masuk rumah dulu,, wah pasti kamu di suruh kakak kamu ya,, tumben-tumbenan kamu main ke rumah mbak Fera…” Ucap mbak Fera dengan nada centilnya..

Ga pake lama dah langsung aja aku masuk rumah mbak Fera, dan duduk di Sofa empuknya,, sembari si Viktor merusak pikiran ini dan menemani mata ini yang bosan berkedip melihat kemolekan tubuh mbak Fera..

“Bentar Rif,, mbak buatin teh hangat dulu ya” Mbak Fera yang seksi itu menawarkan kehangatan teh di pagi ini..

Tiba-tiba terdengar gonggongan dari makhkluk buncit yang berirama noise…

“Mah… Papa mo berangkat kerja dulu ya..” Suara suami mbak Fera..

Terpapar di depanku sebuah penampakan yang menjemukan,, Mas Pur suami mbak Fera yang bertubuh buncit, serta di poles lapangan golf dijidatnya lewat di depanku yang sedang duduk di sofa empuk..

“Oh Arif tho,, mampir dulu pasti di suruh kakak kamu ya?,”Ucap mas Pur dengan nada ramah kepadaku..
“Ia ini mas,, mau berangkat kerja ya?” Sapaku penuh malu-malu dan sungkan.
“Ia ini Rif, ya udah itu tehnya diminum ya jangan malu-malu” Kata mas Pur yang ditemani mbak Fera diantar keluar rumahnya untuk berangkat kerja..

Brrrmmm Brrmmmm suara mobil Jazz berwarna putih mengkilap menderung… Mas pur sembari mendapat kecupan kecil dari mbak Fera mengantar dia mengawali rutinitasnya hari ini..

“Papa berangkat dulu ma!” Kata mas Pur..
“Iya pa.. hati-hati di jalan ya!! Kata mbak Fera,, yang membuat ku merasa iri..

Dalam batin ini berkecamuk penuh dengan perasangka buruk.. Emang jaman sekarang,, wajah tampan tidak bisa menjadi modal untuk mendapat permaisuri cantik.. Udah jamannya brotu.. brotu meraja lela mendapatkan wanita cantik dengan modal uangnya..

Bahkan pikiranku pesimis “Apakah aku harus menjadi brotu yang tajir dulu untuk mendapat cewek cantik yang bisa memuaskan hati dan menyehatkan Cucak Rowo ku ini…” tanyaku dalam batin..

Mobil mas Pur udah jalan,, mbak Fera pun kemudian menghampiriku..

“Ada apa ini,, kok tumben main kesini” Nada manja mbak Fera menanyaiku..
“Ini mbak aku disuruh kakakku untuk membayar hutang bajunya sama mbak Fera” ucapku penuh malu-malu sambil menyodorkan uang 50 ribuan..

“Ohh itu ya,.. ia mbak terima ya… kenapa buru-buru main dulu dong ke rumah mbak,, lagian sepi neeh,, mbak ga ada temannya..” Kata mbak Fera penuh lemah lembut menggetarkan hati…
“he.. he.. he.. he..,,” tawa kecilku penuh malu-malu tapi mau..

“Kamu sekarang gede-gede kok tambah ganteng aja,, padahal waktu kecil dulu kamu itu item,, tengil,, kribo pula,, sekarang kok berubah 180 derajat…” Mbak Fera penuh manja menggodaku sembari dia berpindah posisi duduknya mendekatiku..

“Gimana dah punya pacar belom kamu sekarang??” tanya mbak Fera sambil mengelus pipiku dengan tangannya yang lembut seperti busa spoon pencuci piring…
“He.. He .. He.. ,, belum kok mbak, susah mencari pacar sekarang” jawabku
“Loohh.. ganteng-ganteng kok ga laku seeh wah kurang nyali pasti kamu,” sahut mbak Fera menggodaku..

“Apa perlu mbak Fera ajarin cari pacar buat kamu,, kalo mbak masih muda,, mbak aja mau kok jadi pacar kamu,, sayang mbak kan udah berumur.. lagi pula dah punya suami..” Dengan suara centilnya mbak Fera menggodaku..

“Ahh mbak bisa aja.. ini walaupun mbak udah cukup umur tapi mbak masih cantik dan seksi malahan mbak Fera masih kaya seumuran anak kuliahan lhooo.. hehehehehe…” Sahutku merayu mbak Fera
“Boong kali ye… mau merayu mbak neeh… mbak aja udah kepala 3 kok umurnya masak dibilang ABG masih kuliah..Pintar juga gitu kok kalau merayu cewek,, masak cari pacar aja ga bisa?” Sahut mbak Fera.

“Iya beneran mbak.. Arif ga bohong.. sumpeh dah…Kalau ada edisi ke duanya cewek kaya mbak Fera gini.. Ga Pake Lama dah Arif pacarin…” Kataku sambil merayu mbak Fera..

“Pintar juga ini adik temanku merayu cewek duh duh duh,, makin gede makin pintar aja kamu ya” sambil menempelkan bodynya yang aduhai dan jari-jari tangannya yang lentik mbak Fera mengusap leherku.

“Ah geli mbak.. mau di geli-geli in X lainnya dong…” spontan aku berucap sungguh bergetar bulu kuduk ini diusap leher ini ama jari-jari lentik mbak Fera…

“Duh kamu nakal deh Rif… emang kamu belum pernah di cumbu cewek ya,, mbak gituin aja udah ga tahan.. hahahahaha” sembari ketawa kecil mbak Fera menggoda iminku…

“Pacaran aja ga pernah mbak,, ngerasain yang namanya dicium cewek apalagi??? bikin penasaran seeh,, tapi apa mau di kata nasib ya nasib mbak..” Dengan nada polos aku utarakan kejujuranku kepada mbak Fera..

“Masa seeh hari gini loohh.. ada perjaka ting tong nyangkut di rumahku,,” Mbak Fera berkata sambil centil-centil nakal…

“Iya mbak sumpah demi apa aja deh asal jangan demi di kejar-kejar dedemit,, hehehehehe” Spontan kepolosanku berucap.

“Mau ga mbak ajarin caranya” Dengan manja mbak Fera dan menjetikkan jarinya di lingerie tepat di atas belahan toket payudaranya yang putih montok seperti pepaya belgia.. Menggodaku..
“Ohhhhh… ga kuat dah si Viktor menggerayangi pikiran ini…” Dalam batinku tersayat..

Mbak Fera penuh kehausan langsung to the Point menjulurkan lidahnya tepat dibibirku…

“Enak kan…” Sahut mbak Fera memotong aksinya…

Bibir mbak Fera yang merah merekah langsung mencibir tepat ke bibirku ini… Lidahnya bergentayangan menggeliat membasahi bibirku… Oh serasa surga dunia… Mbak Fera penuh dengan kehausan tangannya meremas-remas payudaranya yang putih itu dihiasi lingerie tipis berwarna merah muda.. Srruuupp Srruuupp… Cepp.. Cepp.. Slurup.. nada hawa nafsu dari dua bibir yang sedang bergejolak terdengar..

Aku pun tak mau kalah aku lumat bibir mbak vera … yang merah merekah nan seksi itu.. lidah ku dan lidah mbak Fera bertempur menggeliat geliat menari di dalam mulut saling bersahutan…Air liurnya pun ikut membasahi kehausan ini…

“Enak kan sayang”.. Mbak Fera berucap sembari dia melanjutkan pertempuran bibir ini…

Lidahnya sungguh menggelikan berputar-putar menari di bibirku,, beraduan dengan lidahku yang tak mau kalah melawan kehausan mbak Fera..

Aku hanya bisa menganggukan kepala sembari menikmati kehangatan tubuh dan bergumal berciuman dengan mbak Fera…

Tangan mbak Fera meraih tanganku menunjukan kepadaku bahwasanya Payudaranya ingin diremas penuh lemah lembut…

Jari – jari ini meremas penuh dengan kelembutan menggerayangi payu dara mbak Fera yang putih seperti pepaya Belgia itu.. ouuhh seksi sekali.. aku remas-remas.. semakin bernafsu aku mainkan jemariku di puting mbak fera yang merah merekah itu.. Sembari lidah dan bibir ini terus bergumal penuh dengan kenafsuan..

Mbak fera pun lebih melonggarkan lingerie yang menutupi keindahan tubuh mbak Fera itu.. dilepas lah BH ukuran 34 itu.. di bukanya lingeri itu lebih longgar muncullah payudara yang seksi itu..

Mbak Fera memegangi kepalaku ini mengarahkan tepat di depan payudara yang seksi, putih dan segar itu..

Ga pake lama langsung aja bibirku menuju ke payudara itu,, aq lumat penuh dengan nafsu payu dara mbak Fera yang montok itu.. Aku julurkan lidah ku tepat di putingnya yang merah merekah penuh kehangatan itu..

Lidahku menari-nari menggeliat menjilati puting mbak Fera…

Ohhh Ouuhhh Ahhh… sambil memegangi dan menggeleng-gelengkan kepala ku mbak Fera menikmati lidahku menjulur membasahi dan menari-nari di putingnya…

Aku gigit kecil-kecil putingnya aku remas payudara satunya,, bibirku melumat dan menghisap puting itu .. cupp cclloopp crooopp cuuppp.. aku nikmati kenyotan bibirku mengenyot puting mbak vera..

Ohhh Ouuuuhhh AAAhhhh mbak Fera menikmati, matanya merem melek menikmati putingnya aq hisap…

Hisap lebih kencang dong rif,, mbak Fera berkata sambil tangannya memegangi tanganku yang meremas payudara satunya…

OOhhh Ouuhhh mbak Fera semakin kencang berdesah, sambil menggoyang-goyangkan payudaranya yang sedang aku hisap itu…

Kami berdua larut dalam permainan sex itu,, dan aku terus menghisap dan mengigit kecil-kecil puting mbak Fera yang merah merekah itu..

Tangan mbak Fera meraih bajuku dan melucutinya membugiliku…

Kehausan mbak Fera sungguh tak terbendung langsung saja dia juga melucuti celana jeansku yang berwarna hitam itu..

Dilepaslah juga lingerie tipis merah muda mbak Fera…

Kemudian mbak Fera melepas celana dalamnya, tangannya memegang kepalaku ini, mengarahkan kepadaku tepat di depan memeknya yang berbulu tipis tipis teratur itu… gundukan bulu kemaluan yang tertata rapi,, terpampang dihadapanku..

Sungguh mengisyaratkan bahwa mbak Fera cinta kebersihan dan kesehatan.. dirawatnya kebun bulu kemaluannya yang tertata rapi.. Tidak seperti sarang walet yang bertumpuk ga karuan..

Mbak Fera memegang kepalaku.. mengarahkan memeknya tepat di bibirku… suatu isyarat kalau memeknya ingin dijilatin dengan lidahku…

Langsung saja bibir ini mengenyot memek yang merah segar itu ditumbuhi bulu kemaluan yang tumbuh rapi..

Aku ciumi memek mbak Fera yang merah seperti daging segar itu… lidahku pun ikut menari-menari di atas mulut kemaluan mbak Fera yang seksi itu…

Ohhhh AAAggghhhhh OOOOuuuwwwhhh mbak Fera berdesah menikmati… tanganku pun ikut meraih vagina mbak Fera,, aku buka lebih lebar mulut kemaluan mbak Fera supaya lidahku bisa bergeliat lebih ke dalam… Mbak Fera semakin asik menikmati permainanku,, desahan mbak Fera pun semakin tak terbendung dan semakin kencang…

lebih lebar vagina mbak Fera terbuka lidahku semakin menjulur aku lumat dan lidahku bergeliat menari di vagina mbak Fera… Itil mbak Fera yang centil itu pun membuatku semakin haus .. aku jilatin itil mbak Fera… dan aku gigit kecil.. kecil.. mbak Fera yang berdiri dan aku sedang duduk.. tubuhnya terus bermolek sambil berdesah tak tertahankan…

” Enak Rif.. ouuhhh Uwwwhh Aghhhh mbak Fera berdesah keenakan aku hisap memeknya dengan dashyat sembari lidah ini menyentil-nyentil itil mbak Fera.. yang bergelayutan…

Kemudian, mbak Fera merebahkan tubuhku di atas sofa empuk itu…

Mbak Fera langsung ditepatkannya memeknya di atas wajahku mengisyaratkan kalau memeknya masih ingin di hisap dan di jilatin bibirku ini..

Dengan posisi tidur dan mbak Fera diatas ku tepat memeknya di atas kepalaku aku jilatin memek mbak Fera..
Tanganku pun ikut diraih untuk meremas-remas payudara mbak Fera, yang tidak ingin dianggurin,, ingin ikut dimainin…

Tubuh mbak Fera bergeliat.. memeknya bergoyang-goyang serasa haus ingin dijiliatin, dan dihisap lebih kencang..
Aku gigit kecil memek mbak Fera sambil aku hisap dengan lebih kencang… tak kalah lidah ini menari-nari dalam vagina mbak Vera yang sudah basah…

Mbak Fera semakin mendesah ga karuan aaahh ouuhhh ahhhhh.. aku pun semakin dasyat mencibiri memek mbak Fera itu.. Aku kenyot lebih kencang dengan mulutku,, tanganku pun ga ikut kalah meremas-remas payudara mbak Fera lebih kencang… mbak Fera semakin bergoyang-goyang lebih kencang.. ditekannya lebih kedalam memeknya ke mulutku,, untuk di kenyot lebih kencang.. Ouuhhh Ouuhhhh mbak Fera berdesah keasikan sambil merem melek…

Kemudian mbak Fera berganti posisi… kami berdua memainkan posisi 69…
mbak Fera masih haus memeknya masih ingin di jilatin.. sembari dia mengenyot dan menghisap kontolku yang mengeras dan tegang itu..

Clurrupp Sluruppp Sluurruppp.. nada suara berdesahan bersahutan.. Aq jilatin mekinya mbak Fera aq masukin jariku ke memek mbak Fera aku gesek-gesekin keluar masuk memek mbak Fera yang semakin banjir di basahi air kemaluan mbak Fera…

Mbak Fera pun ga ingin kalah dia hisap kontolu yang super tegang dengan tegangan 220000000 watt…

Sluurruupp Sluurrruuupp Sluurruupp suara kenyotan bibir kami berdua mengenyot alat kelamin…
Ouuhhh Ahhhh semakin basah memek mbak Fera.. desahannya pun semakin meronta… lalu mbak Fera berdiri berpindah posisi.. dia tetap diatas ku.. Dirahkannya kontolku memasuki lubang memek mbak Fera yang udah gatal ingin digenjot itu..

Dengan penuh penghayatan mbak Fera memasukan kontolku memasuki memeknya..oouuhh Uhhhh ahhhh desahan mbak Fera dan desahanku bersahutan…. badan mbak fera bergoyang-goyang diatas badanku.. sambil naik turun secara perlahan mengatur irama memeknya yang disodokkan di kontolku…

Aku pun hanya bisa pasrah menikmati permainan mbak Fera… sambil berdesah.. mbak Fera semakin kencang naik turun menyodokan memeknya yang naik turun dimasukin kontolku..

Ouuhh Ouuhhh Ahhhh mbak Fera berdesah keasyikan.. Dia bergoyang goyang menggerakan memeknya di genjot kontolku.. semakin kedalam dan semakin kencang mbak Fera naik turun.. menyodokan memeknya ke kontolku….

Mbak Fera bergoyang memutar-mutarkan bokongnya.. memasukan lebih dalam kontolku di memeknya…
di tekannya lebih dalam kontolku dengan memeknya sambil menggeliat-geliatkan badannya

Ahhh Ouuwwwhh Ouuugghhh Nada desahan mbak Fera semakin menggila sambil menggoyang-goyangkan badannya… ditekan lebih kencang Memeknya yang dimasuki kontolku itu… Ouugghh Agghhh kami berdua asik menikamti kenikmatan sex.

Berganti posisi,, mbak Fera masih diatas, tapi kami duduk,, aku pangku mbak Fera diatas Sofa hijau yang empuk… Aku naikan tubuh mbak Fera dengan tanganku.. Dan aku naik turunkan tubuh mbak Fera yang molek itu,, kontolku semakin kencang menyodok memek mbak Fera yang semakin basah.. Aku sodok-sodokan kontolku ke memek mbak Fera, aku naik turunkan tubuh mbak Fera lebih cepat… Sambil aku kenyot puting mbak Fera yang merah mungil itu…

Ouhhh Ouuuhhh Ahhhh desah mbak Fera keenakan..

“Enak Rif”,,, Lebih kencang Rif Owwhhh Uhhhh Agghhhhhh.. mbak Fera mendesah,, sodok lebih kencang kontolmu ke memek ku Rif… Hisap Memekku lebih kencang Rif… Ouuuhhh Ahhh Enak Rif… Mbak Fera berkata dan mendesah…

Jeritan desahan mbak Fera semakin meronta dan aku semakin keras memainkan kontolku menyodok memek mbak Fera….
Ahhhhhhhhhh Ouuhhhhhh.. aku keluar Rif… Haaaaaaaaa Ouuhhhhhhh mbak Fera sambil menghela napas…. Nikmat banget Rif… Merasakan puasnya permainan sex.

“Ganti posisi dong Rif” Ucap mbak Fera yang masih haus….

Lalu mbak Fera menungging…. karena aku sering menonton film bokep pastinya aku udah tau dong apa yang di inginkan mbak Fera.. Dia ingin posisi Dogy Style…

Mbak Fera nungging di atas Sofa dan aku berdiri.. Aku dibelakang mbak Fera aku masukin lagi kontolku ke memek mbak Fera yang basah basah basah itu… Aku sodok-sodokan perlahan.. mbak Fera mendesah…. aku pun juga mendesah..

Aku atur irama sodokan kontolku ke memek mbak Fera yang merah dan basah itu… maju mundur seperti tukang parkir…

Slurupp Slurrupp Slurruppp Sluruupp … nyoott nyoott nyottt,,, prettt..prettt..pret… suara kontolku menyodok-nyodok memek mbak Fera… Ouuhhhh Aggghhhh Owwwhhh mbak Fera meronta…

Terus aku atur irama … maju mundur kontolku menyodok memek mbak Fera…. Ouuhhh Ahhhhh mbak Fera meraih tanganku untuk meremas Payudaranya.. jari jariku memutar di puting mbak Fera yang imut-imut itu…

“Enak Rif.. terus Riff.. Ouuhhh Agghhhhh Ahhhhhhhh ,, desahan mbak Fera meronta..
“Sodokin lebih dalam Rif”….

Semakin kencang aku sodokan kontolku ke memek mbak Fera.. semakin cepat aku maju mundurkan kontolku menyodok memek mbak Fera… Dan aku lebih tekan kontolku menyodok memek mbak Fera…

Ahhhhh Ahhh Owwhhh terus Rif… mbak Fera meronta keenakan … Ahhhhh Ahhhh

Owwhwhhhh.. Ahhhh Ouuuwwwggghhhhh mbak Fera menjerit meronta.. mau keluar aku Rif lebih kencang Rif sodokanmu ..

Ouuuwwwhhhh Aggghhhhh.. mbak Fera merasa keenakan..

AAAAGGGGHHhhhhhhhh OOwwwwhhhhhh sambil menghela napas.. hmmm hmmmmm hmmmm keluar Rif….

Lalu tak lama kita langsung berganti posisi.. sini rif masukin lagi kontolmu ke memekku ya.. masih gatel neeh Rif.. memekku ingin di genjot lagi..

Mbak Fera tidur dan mengangangkan kakinya diatas Sofa….

Tanpa komando langsung aku hajar lagi.. memek merah.. mbak Fera..

Aku masukin kontolku ke memek mbak Fera… posisi mbak Fera yang mengangkangkan kakinya lebar lebar.. aku lebih leluasa menyodokkan kontolku ke dalam memek mbak Fera..

Aku atur perlahan-lahan maju mundur kontolku menyodok memek mbak Fera yang merah merekah,, dan sudah berair itu…
Maju mundur;…. prrtttt prtttt prtttt slurup slurrruupp slurrruppp prrtt.. prrrttt suara kontolku dan memek mbak Fera meronta… enak Rif.. enak sambil mengangkangkan kaki dan merem melek mbak Fera pasrah aku sodok-sodokan kontolku ke memeknya…

Ohhh Ouuhhh Owwwhhh Aggghhhh Hmmm Hmmmm desah kami berdua bersahutan…

Lebih kencang Rif… Geli banget neeh memekku Rif… Enak Banget…. Sodokkan kamu Rif… Hmmm Hmmmm Ouugghhhh Ougghhh desahan mbak Fera…

Agghhh Aghhhh desahan ku yang merasakan kehangatan dan kegelian memek mbak Fera yang mengenyot Kontolku….

Ouhhh Ouhhh Agghhhh nikmat Rif Terus Rif… Ahhhhgggghhh mbak Fera meronta kegirangan…

Selang berapa waktu aku semakin sodok lebih kencang memek mbak Fera… Kontolku sudah menegang ga karuan.. kontolku sudah tegang banget ga tahan di kenyot memek mbak Fera yang masih rapet itu,,, aaGghhhh Gggghhhh Ouwwwhhhggg hhhhh
Ouwwhhhh… desahan ku…

Semakin kencang aku sodok.. mbak Fera pun semakin mengakangkan kakinya dengan tangannya semakin lebar….

Aaahhhh Ouuwwhhhh Srruuppp Prrttttt Hmmmmm suara desahan dan suara kontolku yang menyodok memek mbak Fera bersahutan…

GA kuat aku mbak.. mau keluar aku mbak… Ouuhhhh

Agghhh Ouuhhhh sama Rif,, mbak juga horny banget mo keluar .. keluarin bareng yuk…

Tak lama kemudian… Kontolku terasa hangat seperti diguyur air hangat.. tanda kalau mbak Fera dah keluar… Langsung aku sahut dengan cipratan air kenikmatan dari kontolku.. sambil aku sodokan kontolku ke memek mbak Fera lebih kencang
OOOwwwwhhhhh Ouuuggghhhh Agghhhhh Agghhhhhh… kami berdua meronta keenakan.. Hmmmm keluar bareng kami dua mengluarkan air kenikmatan

Hmmm Hmmm Hmmmm puas Rif enak banget sahut mbak Fera… merasakan kepuasan setelah keluar

“Iya mbak enak banget.. hmmm hmmmm”” sahut aku menghela napas…

Kami berdua bergumal manja-manjaan sambil mbak Fera mengecup keningku penuh kehangatan.. menandakan kalau dia udah puas

Bobokan dulu yuk.. Capek Rif… Pulang ntar dulu ya,, istirahat bentar sini aja gapapa…
Kemudian kami merebahkan Badan kami berdua yang capek ga karuan…. Setelah bertempur dengan Cinta dan Nafsu…